PASOLLE.ID – Pemilik warung makan membangunkan saya di pukul 03.00 wib. Si ibu konsisten pada janjinya semalam ketika saya makan malam di warungnya. Dia janji membawakan makanan pukul 03.00.

Di dinihari itu, sebungkus nasi dan seekor ikan layang bumbu tumis kecap sedia di kantong kresek. Saya jadi ingat anakku Donnie yang doyan ikan bumbu kecap.

Sekantung plastik tahu Sumedang yang saya beli di Pamengpeuk berfaedah kali ini sebagai peneman meski asinnya cukup mengganggu.

Alarm yang saya setel di pukul 03.30 terlampaui. Istri menelpon sesudahnya.

“Nggak apa pak itu aja,” jawab si teteh warung saat melihat saya linglung menghitung uang 14 ribu. Kurang seribu dari harga 15 ribu yang disebutnya.

“Terima kasih ya teh,” kataku singkat sembari menutup pintu.

“Slet!” Begitu punyi pintu penginapan bertarif 350 ribu permalam itu sesaat si ibu pergi.

Penginapan yang nyaman, bersih dan Islami karena ada mushalla di dalamnya. Ada tiga unit penginapan yang serupa ini di Rancabuaya.

Di bagian lain, suara riuh terdengar dari suara supir ‘kanpas’ rokok yang nampaknya diaturkan makanan sama orang hotel. Saya luput kali ini.

Setelah salat subuh, saya sempatkan tidur sebelum bangun pukul 07.00.

Pukul 07.20 saya berjalan ke pantai yang dijejali tidak kurang 100 perahu bobot 1-3 groston. Nama lambungnya macam-macam. Ada PUMP 2012, Putra Cikal hingga Halmahera 2.

“Lagi beberes saja, belum ke laut,” kata Naji nelayan anggota koperasi Semi Jaya II. Saya menyapa Naji yang sedang membersihkan palka perahunya.

Setelah itu, saya bersua ketua koperasi Semi Jaya II, HDS alias Darmin Susanto di Perkampungan Rancabuaya.

Setelah ngobrol tentang koperasinya, saya lalu naik ojek ke Bungbulang bersama Kang Deden.

Saya harus bergegas mengumpulkan cucian yang masih basah dan bersiap ke Bungbulang. Pakaian yang saya cuci semalam tentu belum kering. Upaya saya menjemurnya di bawah mesin AC tak membuahkan hasil.

Di ketinggian Garut saya menikmati hembusan angin dan panorama Pantai Laut Selatan yang aduhai.

Ke Bungbulang, kami mengejar ‘Elep – ELF’ Berkah Doa Ibu yang akan ke Garut atau Bandung.

Di Bungbulang, saya harus menunggu sejam lebih sebelum Berkah Doa Ibu tiba. Sejam itu saya manfaatkan menjemur pakaian yang masih basah.

Pakain tak kering saat kernet berteriak kalai bis sudah mau jalan. Saya pun bergegas mengambil pakaian dan memasukkan kembali ke kantung kresek.

Perjalanan dari Bungbulang ke Kota Garut melintasi jalan berkelok. Rerumah yang asri, kebun kubis, tomat, teh hingga pokok-pokok kopi. Angin sejuk dari pantai selatan meniup dari celah jendela. Musik Dangdut Koplo Pantura mengisi ruang dengar saya.

Jelang masuk Garut, Gunung Galunggung nan perkasa terlihat menjulang di sisi kanan saya. Saya seperti bergetar melihat ukurannya juga peristiwa letusannya yang menggemparkan.

Peristiwa menggelikan sekaligus menantang perasaan adalah ketika mobil yang saya tumpangi melewati terminal tujuan Tasikmalaya. Si kernet salah kaprah, dikiranya saya mau balik ke Jakarta dan menurunkan di pool Primajasa Garut.

Japruts (jalan) deh, ke terminal,” batinku. Lumayan juga, sekilo lebih dan ini hari pertama puasa bagiku.

Sampai di terminal saya bergegas masuk kamar kecil. Plong!

“Kang, ada sarung di mushalla?,” kataku dalam aksen Sunda.

Si akang dalam sepersekian detik menarik kantung kresek berisi sarung warna merah. Shalat gabungan dhuhur dan ashar tunai sudah.

Setelah itu, saya mikir. “Mandi nggak ya?”.

Mandi atau bergegas ke sisi timur terminal mencegat bus tujuan Singaparna?

Mandi?

Nggak.

Mandi?

Sepertinya nggak, karena handuk pink kecil saya terlupa di elep tadi.

***

Saya menulis lagi karena ada yang menghebohgetarkan.

Pukul 17.45 wib saya melihat penumpang pada berbuka puasa. Dugaan saya meleset, bus tidak masuk terminal Singaparna tepat waktu. Saya tak bawa bekal minuman dan makanan.

Saya periksa tas, cari-cari kacang rebus sisa kemarin. Nihil.

Saya harus bersabar sekira 10 menit sebelum bus berhenti di SPBU. Mata kelayapan, di mana gerangan penjual air kemasan.

“Noh di samping, ada penjual,” kata pria di depan saya.

Sebotol air mineral jadi pembuka puasa pertama ini. Sebelum naik bus, saya melongok ke penjual es buah rasa lima ribu. Segar!

Saya naik bus. Setelah duduk dua menit saya ke mushalla dan berharap menemukan sarung. Alhamdulillah ada.

Saya menyelesaikan shalat magrib tanpa doa penutup. Feeling bahwa bus akan berangkat membuat saya bergegas ke bahu SPBU.

Dengan sepatu yang dijadikan serupa sendal, saya menyeret kaki ke depan.

Dan…bus sudah tak terlihat. Saya menahan napas. Ingat laptop, cucian basah dan segala berkas di ransel.

“Barusan berangkat,” kata pengendara motor.

Saya kelimpungan. Berdiri mematung dan merentangkan tangan.

Saya yang belum mengenakan sepatu menunduk dan memasangnya dengan benar.

Saat saya berdiri seusai mengikat tali sepatu, saya melihat bokong bus bergerak ke belakang. Pelan. Sang kernet mendekat ke saya dengan bahasa Sunda yang sulit saya pahami. Nadanya seperti mengingatkan untuk waspada.

Saya bergegas naik ke bus dan melonggarkan rongga dada.

***

Saya memasuki wilayah Tasikmalaya perbatasan Garut disambut hujan atau beberapa saat sebelum buka puasa.

Bus yang saya tumpangi dari Garut rupanya tak sampai di pusat Kota Tasikmalaya padahal jauhnya minta ampun. Sepanjang jalan tadi saya sudah browsing hotel dekat terminal. Mulai dari Ramayana hingga ada di sekitar terminal.

“Kalau mau ojek bisa juga tapi jauh,” kata tukang ojek di depan Polsek Singaparna.

Saya mencari informasi hotel terdekat. Yang saya pikirkan pertama kali adalah makan malam dan mandi dan shalat Isya plus tarwih.

Eh satu lagi menjemur pakaian lembab tadi di bawah putaran kipas angin.

Singaparna, 17/5.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *