“Nanti ke sini saja, tidak usah di hotel,” kata Menteri Susi kepada Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tenggara, Askabul Kijo, di Pulau Bokori, (17/09).

Susi nampaknya terkesan dengan pulau di beranda Kota Kendari itu. Tak tanggung-tanggung, dia ber-paddle ria hingga dua kali di sekitar perairan pulau itu.

Keindahan Bokori

Tak bisa disangkal, Pulau Bokori terlihat indah pagi itu. Pantai membentang dari barat ke timur, menawarkan pasir putih dan tepi laut yang bening.

Meski beberapa sisi mengalami abrasi, barisan pohon kelapa terlihat memukau, belum lagi pemandangan di atas pulau yang asri dan mengasikkan sebagai tempat beraktivitas.

Meski banyak yang menyebut hawa udara pulau Bokori panas, namun suasananya tidak kalah dengan destinasi-destinasi serupa Gili Lombok atau pantai Bali sekalipun. Bokori seperti permata yang baru saja diasah dan mengkilap di barisan destinasi wisata pulau utama Indonesia.

Setelah diluncurkan dalam tahun 2015 oleh Gubernur Nur Alam, Pulau Bokori semakin berbenah. Mulai menggeliat dan menjadi magnit wisata laut bersama Pulau Labengki di perbatasan Sulawesi Tengah dan Konawe.

Menteri Susi dan Perempuan Bajo

Bokori adalah hamparan pulau pasir yang terlihat serupa boomerang, melengkung, buah dari titian waktu dan dinamika kelautan yang menyertainya, melalui pahatan gelombang dan arus. Bokori dulunya adalah hunian masyarakat Bajo sebelum dipindahkan ke pesisir daratan utama Kendari dalam tahun 80-an di masa Gubernur Alala.

Untuk sampai ke sana, kita bisa berangkat dari pusat Kota Kendari. Waktu tempuh sekitar 30 menit dari pelabuhan kota dengan speedoat atau sekitar 2 jam jika melewati jalan darat ke pusat desa Bokori lalu menyeberang dengan perahu nelayan. Sewanya beragam, dari harga 300ribu sekali jalan hingga 500ribu.

Bokori adalah tempat yang bagus untuk berenang atau snorkeling. Belum ada informasi tentang kondisi terumbu karangnya, tapi sekilas terlihat menyimpan pesona bawah air yang tak kalah dengan tempat lain.

Saat saya sampai di pulau pada pukul 7.30, suasana pantai telah ramai. Satu persatu perahu tiba dan memboyong belasan penumpang. Terlihat pula perahu banana untuk pengunjung. Fasilitas terbilang lengkap. Ada villa atau cottage hingga menara yang ditujukan untuk melihat sisi utara pulau.

Di salah satu vila, di vila O2, adalah tempat di mana Menteri Susi dan rombongannya, tepatnya keluarganya mengaso. Dari sini terlihat pantai dan pemandangan dari kampung-kampung komunitas Bajo di sepanjang Desa Bokori, Bajoe, Bajo Indah, Mekar, hingga Leppe.

Keindahan Pulau Bokori

Pagi itu, belasan warga berbahasa Bajo terlihat semangat begitu tahu kalau Menteri Susi bertandang ke pulau. Beberapa pengunjung berkumpul di sekitar vila menunggu sang Menteri usai main air dan berharap foto bareng.

“Kami ini datang dari seberang, dari Desa Bokori, orang Bajo,” kata salah seorang dari mereka yang mengenakan baju seragam biru muda.

Di pantai, Susi terlihat bersama beberapa anak-anak kecil. Mengenakan wetsuit warna biru motif hitam, dan celana warna hitam. Dia baru saja mengitari pulau dengan paddle. Terlihat tiga orang pengawal yang menemaninya dengan paddle dan kano.

Pagi itu, di Bokori, Susi bersantai sembari menyeruput segelas kopi. Tak lama dia berdiri dan melayani permintaan anak-anak muda untuk foto bareng. Sesi foto sepertimya takkan usai sebelum pengunjung diingatkan pengawal kalau ibu akan ke laut lagi.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *