Di suatu waktu, February 2008. Beberapa saat sebelum memasuki Takengon, Aceh Tengah, di dekat jembatan kecil, kami menghampiri penjual ikan di bahu kanan jalan. Seorang wanita tua. Duduk berpangku tangan, sesekali tangan kirinya ayunkan ranting kecil yang ujungnya tergantung untaian tali rafia pengusir lalat.

Diam, tanpa senyum ketika kami mendekat.

“Ikan dari mana ini bu?” kataku.

“Bireuen.” Jawabnya singkat.

”Diantar siapa”?

Ada yang datang khusus dengan mobil pikap, katanya datar. Dialog kami tidak lama, karena yang kami cari ikan khas Lut Tawar, danau Takengon. Ikannya seperti mujair berukuran kecil namun terlihat lebih terang warna kulitnya. Orang-orang menceritakan ikan ini. Khas dan melimpah sepanjang waktu.

Jika daerah Tangse di Pidie dikenal dengan ikan khas keureuling yang bertulang bak trisula aneh itu, Takengon punya ikan khas, namanya ikan depik. Danau Takengon yang tenang itu menjadi asuhan tenang bagi ikan-ikan depik untuk berkembang biak.

Sore penuh awan di ujung timur kota. Burung-burung elang warna cokelat terlihat bertengger di pucuk pohon kering, lapuk.

“Fikar, pernah makan kue keukarah atau lepat Gayo?” Dia menggeleng. Sebelum beranjak mencari penginapan, kami mengunjungi pusat kota sejuk itu. Mencari buah-buahan di Pasar Bawah dan mengamati beberapa bangunan khas.

Kota dingin bersuhu 16⁰ hingga 25⁰C itu, tertata apik. Beberapa bangunan tua dengan arsitektur peninggalan Belanda nampaknya masih bertahan. Semoga tidak ada yang dirobohkan atau digusur dalam pembangunan kota.

Dulu, kawasan ini disebut salah satu daerah kunci ekonomi Aceh, itulah sebabnya para meneer Belanda sangat menyayangi kota ini. Di jaman kolonial, jalur Bireun – Takengon ini disebut salah satu yang paling dinamis.

Gajah adalah salah satu moda transportasi bahkan Gubernur VOC di Aceh pada saat itu beberapa kali melakukan perjalanan dengan mobilnya, lengkap dengan serdadu. Dari Takengon, kopi Gayo merambah Eropa.

Saya teringat beberapa foto antik dari kawasan ini dipamerkan di gedung Arsip di Banda Aceh, tentang gajah, kumis tebal yang gubernur, hingga para serdadu yang menenteng senjata.

Ikan khas itu, akhirnya kami jumpai di salah satu pasar sentral Takengon. Berjejer, kecil diantara ikan-ikan laut, ikan kerapu, kakap, dan ikan tambak seperti bandeng, nila dan ikan karang lainnya.

Setelah puas mengelilingi pasar, kawan saya yang asal benua Kanguru mengajak memangkas rambut di salah satu sudut kota. Tepat di jalan menanjak sebelum berbelok ke kanan menuju jalur kanan danau.

“Are you serious?” kataku.

“Yeah, why? Come on”

Di saat duduk mematung diatas kursi pangkas itulah, aroma kopi bubuk giling menyeruak di ruangan pangkas dan membuat kami hanya bisa saling memandang dan melenguh. Duh, enaknya.

“Itu dia pak, daya tarik Aceh Tengah adalah kopi!” celetuk Zulfikar. Kopi Gayokah itu?

Bertiga, kami bergerak ke daerah ketinggian di sisi danau. Warga Takengon yang kami tanyai, menyodorkan nama hotel Renggali. Letaknya dibagian timur danau. Tenang dan jauh dari pemukiman warga. Untuk menjangkaunya kami mesti melewati jembatan di tepi kota, jembatan yang disekitarnya dijejali keramba ikan.

Kamar kami dilengkapi jendela kaca yang lebar, dimana kami bisa menatap kecipak air danau yang menjilati batang pohon pinus tua. Melihat wanita-wanita yang membilas cucian dan beberapa pemancing ikan terayun di atas sampan kecilnya.

Dari titik ini juga terlihat liukan jalan masuk ke Takengon bagai ular dari arah utara. Renggali sangat strategis, asri dan antik. Tak perlu onkan ac karena suhu sudah sekitar malam itu tidak sampai 25⁰.

Nampaknya, mesin pendingin itu sudah malfungsi dengan sendirinya. Menurut cerita hotel ini adalah peninggalan salah seorang petinggi di jajaran kabinet Suharto. Tarifnya Rp. 350 ribu permalam. Namun itubukanlah harga yang mahal setelah banyak pekerja sosial yang lalu lalang di Aceh pasca tsunami.

Menjelang tidur, sekitar pukul 10 malam saya masih menerawang. Membayangkan suasana perjalanan besok subuh ke Meulaboh lewat jalur pegunungan Singga Mata yang terkenal itu. Salah satu jalan di Banda Aceh di dekat tempat kerja saya adalah jalan Singga Mata.

“Benar pak, jalan Singga Mata itu tidak jauh dari Lapangan Blang Padang di Banda Aceh. Terkenal tapi saya yakin tidak banyak warga Aceh yang pernah melewati jalur pegunungan itu,” kata Zulfikar.

“Tidurlah Fik, besok kita mesti buru-buru berangkat”. Kataku, menutup mata seraya tersenyum. Tiba-tiba saya ingat Fikar, yang buang angin saat kami singgah di salah satu warung di Bireun. Dia mesem ketika, saya bilang. “Huss…ada inong tuh!”.

Besok pagi, kami ke Meulaboh Via Singga Mata. Selamat malam Takengon.

Hampir dua tahun di Aceh tanpa mengenal sisi terdalam kawasan dengan magnet sosial ekonomi yang paling menyita perhatian dunia ini tentu bukanlah hal yang baik. Saya bisa berbangga karena Zulfikar saja yang Aceh belum pernah melewati jalur itu. Semoga lancar.

Fikar masih tidur ketika saya membuka mata. Pukul 5 seusai shalat subuh, yang nampaknya terlalu cepat, kamipun berangkat. Sepi, nyaris tanpa bunyi kecuali mobil yang sedang dipanaskan mesinnya.

Suasana hotel sangat sepi ketika bill hotel sudah ditangan. Rupanya sang resepsionis sudah mempersiapkannya. Adzan masih berkumandang, kendaraan kami perlahan lepas kota.

Menuruni jalan dari arah Takengon dan hanya berbekal informasi: ‘nanti kalau jumpa jembatan kecil, belok kiri’ Itu petunjuk dari pemilik warung makan Sigli, di Takengon semalam, tempat kami makan malam.

Dia tidak mau mengecewakan saya. Lalu dia berujar “Jangan khawatir, sabar saja pak nanti kita bertanya pada warga sekitar. Toh, saya bisa berbahasa Aceh.” Katanya santai tanpa memandang ke saya.

Penumpang satunya lagi, di belakang diam saja dan nampaknya hanya membayangkan bagaimana sampai ke pantai barat Aceh sesegera mungkin. Atau entahlah, mungkin sedang mengkalkulasi segala kemungkinan.

Setelah berbelok ke kiri, kami memasuki jalan sempit dan masih lengang. Tanpa lampu jalan. Disekitarnya hanya alang-alang tinggi dan pohon raksasa. Bulan tak nampak. Semalam rupanya hujan di beberapa titik di pinggir kota.

Tiga puluh menit perjalanan, saya, termasuk Fikar mulai khawatir. Jalan-jalan semakin menyempit dan nyaris tanpa cahaya kecuali lampu sorot mobil. Entah apa jadinya, jika…

”Ah tidak, saya tidak mau berpikir macam-macam”.

Saya masih yakin, jika kita malu bertanya, pasti sesat di jalan. Betapa tidak rasionalnya saya. Jika tidak ada orang? Apalagi masih gelap gulita.

Rumah warga satu satu dalam pandangan. Pukul 5.30 masih sangat gelap. Kami berhenti, dan singgah bertanya, di salah satu rumah di sudut jalan. Pilihannya ada dua, belok kanan atau terus. Saya tidak berani turun.

“Turunlah Fikar. Gunakan bahasa Aceh.”

Teman saya di belakang seperti tidak bernafas ketika kami berhenti di persimpangan gelap. Saya tidak menatapnya. Mesin mobil tetap menyala, lampu sign panjang tetap menyala.

Sekitar pukul 5.20 subuh hari, dari lorong keluar seorang lelaki tua, dengan sajadah di tangannya. Rupanya dia baru saja pulang dari meunasah. Tapi Fikar sudah mengucap salam pada warga yang pintu rumahnya terbuka. Seorang perempuan muda.

Dimintanya, untuk terus saja lalu berbelok ke kiri. Kita diminta terus hingga mendapatkan belokan segera ambil yang kiri, seperti kata ibu itu. Inilah kali pertama kami bertanya.

Saya ragu, Fikar ragu. Dimanakah jalan yang dimaksud ibu itu? Kita sudah 10 menit tapi belum terlihat belokan itu. Kami masuk perkampungan. Tapi rumah-rumah masih tertutup.

Gelap sekal, tidak ada sesiapa yang terlihat. Saya mematung di jok depan, pasrah. Mobil terus melaju. Dari kejauhan terlihat empat kotak kecil dengan bara terlihat merah temaram. Indah sekali di gelap gulita.

“What was that?” kata teman di sebelah setelah beberapa saat berlalu. Itu tungku bakar batu bata, batu untuk bangunan rumah kataku. Indah ya?

Indah sekali melihat cahaya merah meluber dari kotak tungku pembakaran. Seperti rumah-rumah bentuk kopel di kota yang sedang terbakar. Dari dalam kamarnya menyembur bara dan lidah api. Tungku api itu berbentuk persegi dengan empat bagian. Indah tapi tidak menerangi jalan di daerah situ. Bahkan terlihatan bagai kawah gunung berapi dari kejauhan.

Ada beberapa rumah namun percabangan jalan yang disebut sebelumnya belum nampak. Hingga dalam hitungan beberap menit.

“Alhamdulillah, kataku”

Kami menjumpai beberapa orang berkumpul di salah satu belokan jalan. Tiga orang ibu-ibu tua, seorang gadis dan dua orang anak kecil semuanya perempuan. sedang duduk diatas deker jalan. Kamipun bertanya dan sekali lagi, tetap diminta untuk terus saja. Mereka adalah warga desa yang sedang menunggu tumpangan ke Takengon.

Sesuatu yang saya tidak duga sebelumnya. Di ujung ketakutan saya yang membuatku duduk mematung sejak dari Takengon, ternyata ada geliat warga di gelap subuh.

“Beruntung sekali ya pak, ada orang di pertigaan tadi.”

Kami meneruskan perjalanan. Waktu sudah mendekati pukul 6 tetapi masih gelap. Kami menutup semua kaca jendela, tidak menyalakan ac mobil. Berseliweran ketakukan, tentang gajah, harimau Sumatera dan segala yang mengerikan.

“Banyak sekali anjing di daerah sini” Kata Zulfikar. Sesekali dia mengencangkan laju mobil ketika melihat dari jauh banyak anjing bergerombol di tengah jalan.

“Hati-hati Fik,” kataku. “Ngga apa apa pak” Hanya mengagetkan saja. Kawan saya di belakang diam saja. Dia tahu, kalau Zulfikar memang sedang bermain-main. Anjing-anjing itu kerap menghangatkan badan diatas jalan aspal tua. Mungkin setelah usai menjaga kebun.

Tidak seperti di Banda Aceh, di daerah sini, anjing dapat dijumpai di sepanjang jalan. Menjadi penjaga kebun. Di daerah sini, kebun kopi ditanam sejak dulu dan saat ini, kebun kakao mulai digemari pekebun.

Zulfikar tetap menggeber gas mobil. Kira-kiranya speed 50 kilometer perjam pada jalan tak jelas arahnya. Tapi itu, tidak lama karena, jalan raya sepertinya baru saja terpotong. Beberapa bongkahan batu dan tanah merah menghalangi jalan kami.

Untung saja, ada pengendara kereta (motor) win, sedang meluncur dari arah belakang kami. Fikar agak ke tepi dan kami mengekor di belakangnya. Tapi itu hanya sekitar 5 menit. Karena dia hentikan motornya dan segera masuk ke salah satu lorong kebun. Kami tidak sempat lagi bertanya.

“Kita akan memasuki lokasi yang pernah terjadi pembantaian, pak”. Kata Fikar yang mulai bersemangat. Tapi saya takut, gelisah.

“Maksudmu?”.

Saya memandang lelaki perperawakan tinggi gemuk ini. Saya mengenalnya pertama kali beberapa bulan lalu di Banda Aceh setelah dia bercerita tentang emaknya yang asli Makassar. Nenek Rukiah namanya, sudah lima puluh tahun berdomisili di Banda Aceh. Menikah dengan seorang pedagang asal Aceh di Jakarta. Bertemu dengan nenek Rukiah setelah diboyong keluarganya yang tentara ke Jakarta. Dari Jakarta kemudian ke Banda Aceh.

“Beruntung, emak saya selamat ketika tsunami memporakporandakan Aceh,” katanya suatu ketika.

Lokasi yang kita lewati tadi adalah lokasi penembakan seorang tokoh Aceh Barat bernama Tengku Bantaqiyah bersama beberapa orang santri dan pengikutnya. Diperkirakan kejadiannya sekitar sepuluh tahun lalu.

“Oh, ya?” Kataku. “Iyya, tiada alasan yang jelas terkait pembunuhan itu”.

“Lalu?” Kataku.

“Katanya sih menyimpan senjata dan tentara RI murka,” katanya.

Kekejaman konflik bersenjata itu, berdampak jauh hingga pelosok. Hingga lokasi yang jauh dari hiruk pikuk politik nasional dan keramaian. Tragedi Tengku Bantaqiah di Beutong Ateuh, Aceh Barat oleh rilis media menelan korban lebih dari tiga puluh jiwa warga sipil. Kejadiannya pada tanggal 23 bulan Juli 1999.

“Saya baru tahu, tokoh dan cerita ini Fik”. Kataku seraya memperbaiki duduk. Saya membayangkan jika saya melewati daerah Pidie, yang banyak diceritakan adalah Abdullah Syafii yang terkenal itu.

Di satu titik setelah melewati beberapa jalan berlubang dan tanah lapang kami menjumpai satu pos polisi. Saat itu, kami menjumpai seorang polisi yang sedang usai jaga malam. Dia menenteng senjata laras panjang.

Dia tak lagi rapi, dibiarkannya lengan bajunya menjuntai panjang. Kaki bajunya menutup ikat pinggangnya. Dia meminta kami pelan-pelan, dengan isyarat tangannya. Tidak jauh dari situ, beberapa back hoe (escavator) sedang istirahat. Beberapa titik di antara Takengon dan Beutong Ateuk sedang di perbaiki. Tapi jalur yang diperbaiki itu, tidak panjang.

Hingga tepat pukul 6.30 terlihat semburat di belakang kami. Di kejauhan di punggung Bukit Barisan mulai menyinari jalan kami. Kami baru sadar kalau kami sedang berada di ketinggian. Kiri kanan tebing melandai. Kabut dan pohon-pohon raksasa.

“Terus saja, kataku pada Fikar”.”

“Tunggu…tidak, tidak, mari kita berhenti, saya ingin mengabadikan kabut dan sunrise dari sini”.

Di belakang tergantung kabut dan di kejauhan cahaya matahari yang masih merah muda. Saya membelakangi kebun-kebun bawang, yang nampaknya baru saja ditanam. Lalu mengambil titik lain, berfoto didepan matahari terbit di timur. So sweet.

“Abadikanlah Fikar.” Dirimu beruntung, sebagai orang Aceh, Nangngroemu ini sangat indah. Akhirnya, setelah sempat tegang dan khawatir, kami disambut keindahan di salah satu titik.

Tidak lama menikmati suasana indah itu. Tiga jam perjalanan, tumpangan kami seperti sedang meluncur jatuh dari puncak sudut 90 derajat. Hampir sejam kami menikmati luncuran di jalan yang sempit dan dikiri-kanannya beberapa kali terjadi longsor.

Di kiri jurang, di kanan batu-batu cadas. Jika saja ada mobil minis bus dari arah bawah, saya tidak yakin Fikar bisa mengendalikan mobilnya. Namun, jalan yang masih beraspal rata itu rupanya sangat membantu kami menuruni ketinggian daerah pegunungan ini.

Kawan saya diam saja di belakang, saya khawatir. Mobil meluncur pelan. Tidak banyak yang kami lakukan, mengobrol juga malas.

Lekuk jalan mulai nampak tidak jauh dari jalan menurun. Kami disambut jalan menanjak tidak lama setelah menahan napas dari daerah sebelumnya. Lepas dari jalan menurun ini rupanya, tiba tantangan berikutnya; jalan rusak berat dengan batu kerakal yang besar. Rusak berat dengan kontur menanjak adalah tantangan berikutnya.

Kami melewati puncak dan memandang dari jauh wilayah Nagan Raya dan merekam mentari menyeruak dari celah pohon-pohon tua. Sebagian sudah terlihat keropos. Burung-burung malam yang kepagian hinggap di pucuk pakis. Kami seperti tersesat dalam belantara negeri baru, melewati gelap dan keindahan yang tersembunyi.

Menikmati sunrise dan perjalanan yang dramatis, karena jalan yang rusak dan mobil yang mengkhawatirkan membuat saya gelagapan walau cukup terhipnotis dengan panorama yang alami. Lekuk gunung dan ngarai yang sempit begitu memesona.

Burung-burung kecil bermain di jalan aspal yang mulai bopeng. Kami tidak pernah berpapasan dengan kendaraan kecuali burung hantu, ayam kate, ya, sepasang ayam kate.

“Saya belum pernah melewati jalan tadi pak,” kata Fikar.

Saya beruntung melihat ayam liar, ayam kate. Yang satu berwarna hitam, yang satunya lagi coklat keemasan, katanya.

Kabut menjemput di perbatasan Nagan Raya. Mobil kami yang susah bergerak di jalan menanjak, terasa bagai besi rongsokan yang tak bisa apa apa. Perjalanan yang nekat, karena belakangan saya tahu kalau mobil sewa itu, bannya gundul.

Di kejauhan siluet putih dan terlihat garis garis tipis di bubungnya, ada semburat halus pertanda kabut sedang ditunggu badai. Juga, kami menyaksikan jamur jamur aneh bagai paku keluar dari tebing cadas. Kecuali palem yang nampak ketuaan, melihat pinggangnya yang semakin membesar.

Saya ingat ketika baru saja meninggalkan kota Takengon, pohon tua dan air yang mengalir di tebing tebing seusai hujan. Seperti berharap doa dari kabut, mata kucing yang lurus dan tungku bakar batu bata sepanjang jalan mendaki di pertigaan Angkop. Juga, dari pintu rumah warga, kami merasakan aliran menyentuh.

Seorang wanita muda dengan jilbab putih sedang mencium tangan seorang lelaki tua. Saya melihat ini dengan jelas dari pintu mobil yang kami buka penuh.

“impresif.” batinku.

Panorama gunung Singga Mata di punggung Bukit Barisan ini sangat indah namun jalannya masih rusak yang kami lewati berjarak sekitar 70 kilometer dari Takengon. Jarak Takengon hingga ke Meulaboh dengan melewati kota Jeuram, Nagan Raya mencapai 171 kilometer.

Pagi semakin menjauh. Kami sampai di kampung Blang Meurandeh, rasa khawatir dan mobil yang sesak karena jalan yang tak jelas, kini kembali plong. Kami mendapati beberapa anggota tentara sedang membersihkan halaman kompleks militer, markas kompi senapan.

Saya dan Fikar lupa bahwa di sekitar hutan Beutong Ateuk inilah, Cut Nyak Dhien pahlawan wanita yang gigih itu ditangkap oleh serdadu Belanda.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *