Keindahan pantai dan laut Maluku Tenggara (Maltera) tak diragukan lagi. Foto-foto dan narasi keunikannya tumpah ruah di media sosial dan cetak. Jika kabupaten lain menyimpan sekeping surga, Maltera pantas disebut menggenggam berkeping-keping pesona surgawi itu.

Wajar sebab memiliki tak kurang dari 280 pulau besar dan kecil, dari Pulau Kai Kecil, Pulau Dullah, hingga Pulau Kai Besar. Pulau-pulau ini memboyong destinasi unggulan seperti Gua Hawa, Pulau Bair, Pulau Ngav, Er, Ngodan hingga Pasir Timbul Ngurtavur yang merupakan habitat burung Pelikan.

Satu yang sering disorot adalah Pantai Pasir Panjang Ngurbloat di Kai Kecil. Majalah National Geographic menyebutnya sebagai pantai berpasir paling halus di dunia.

“Tapi jangan salah, masih banyak yang lain, misalnya Ohoi Letman,” kata Levy Latupapua.

Ohoi Letman yang dimaksudkan Levy adalah salah satu desa dampingan CCDP dan menyimpan potensi pesisir dan laut luar biasa namun belum mendapat perhatian maksimal. Padahal tak terlalu jauh dari pusat Kota Langgur.

Seperti apa Ohoi Letman?

“Desa ini dapat dijangkau dari ibukota kabupaten, Langgur, tidak sampai sejam. Jaraknya hanya 15 kilometer. Jika berangkat dari Ambon, kita dapat mendarat di Langgur sebelum bertolak ke desa ini,” kata Levy.

Alat transportasi yang bisa digunakan adalah kendaraan roda empat dengan sewa antara 150ribu hingga 300ribu. “Tergantung lama pakai. Kalau naik ojek biayanya 25ribu/sekali jalan,” tambahnya.

Ohoi Letman, ada di Kei Kecil. Desa ini berpenduduk 1.305 orang yang tediri dari laki-laki sebanyak 645 orang dan perempuan 660 orang. Jumlah kepala keluarga sebanyak 295 KK.

Di utara Letman kita bisa melihat beranda Laut Banda, di selatan ada Desa Ohoi Kolser serta Teluk Kelenit, sementara di timur merupakan Selat Tual, di barat ada Ohoi Dertawun berikut Laut Banda. Sejauh mata memandang adalah laut dan pantai putih bersih.

Levy bercerita bahwa menurut sejarah desa, penamaan Letman yang artinya jembatan bisu bermula dari penyebutan pada cara peperangan dalam menyelesaikan sengketa antar ohoi (marga). Ohoi Letman mewujud sekitar abad ke-19 oleh seorang bapak bernama Tabasan dari marga Ohoibor.

“Letman punya vegetasi yang kaya, baik di darat dan laut. Ini jadi alasan mengapa desa ini sangat pantas untuk dijadikan lokasi wisata atau dikelola dengan baik,” ucap Levy. Hal inilah yang mendasari mengapa CCDP memasukkan Ohoi Letman sebagai salah satu lokasi dampingan.
Diperoleh informasi bahwa para pihak terutama perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan bersama konsultan, pendamping desa dan terutama masyarakat telah bersepakat untuk mengembangkan lokasi ekowisata yang sesuai dengan karakter lingkungan dan penerimaan masyarakat.

“Nama lokasinya Yeer Teran Ratut (YTR) atau artinya Bia Seratus Biji,” sebut Levy. Harapan Pemerintah Daerah, sebagaimana harapan Kementerian Kelautan dan Perikanan terhadap YTR adalah terbangunnya kapasitas sosial-ekonomi berbasis ekowisata sebagai pilihan pada masyarakat untuk mencari nafkah tambahan.

Masyarakat telah merencanakan misalnya pembangunan fasilitas flying fox dan jembatan tali. Harapannya fasilitas ini akan menjadi pemikat wisatawan.

Pesona surgawi Letman tercermin dari konfigurasi empat pula yang berdekatan. Tak hanya punya vegerasi yang masih padat, juga diberikan pantai-pantai yang indah, pasir putih dan menawan hati jika melihatnya dari ketinggian. Karena konfigurasi itu pula maka pembangunan fasilitas flying fox yang lebih bagus tidak dapat ditunda lagi.

Bayangkanlah betapa menantangnya bergelantungan di atas tali, melintasi perairan berwarna biru toska, sebelum sampai di pulau seberang.

Tak hanya itu, kita bisa menyaksikan konfigurasi pulau dengan menaiki menara yang telah dibangun oleh CCDP. Jika ingin mengaso, silakan bernaung di gazebo di tengah laut sembari memandangi pucuk-pucuk lautan, riak air dan menikmati angin sepoi dari selatan.

Untuk jangka panjang, menurut Levy, harapannya adalah jika fasilitas telah berfungsi, pengunjung bertambah maka warga bisa mendapatkan manfaat.

“Misalnya menjajakan produk-produk wisata, souvenir, dan layanan jasa wisata seperti perahu, snorkeling atau penyelaman,” katanya.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *