Nun lampau, di interval tahun 1995 hingga 2003, untuk sampai ke atol ketiga terbesar dunia, Taman Nasional Taka Bonerate, setidaknya ada tiga alternatif moda perjalanan.

Pertama, naik perahu kargo dari Pelabuhan Paotere Makassar hingga Pulau Rajuni. Butuh waktu sehari semalam. Kalau cuaca bagus bisa 24 jam, jika sedang angin barat atau musim timur Je’ne Kebo’ yang hebat bisa 30 jam atau bahkan lebih.

Saat musim barat, rutenya via Selat Makassar-Takalar-Je’neponto lalu memotong di selat antara Bira Bulukumba dengan Pamatata Selayar lalu mengiris arah tenggara ke Pulau Rajuni. Gelombang barat jadi pendorong gerak perahu barang berbobot 25 hingga 35 ton kala itu.

Kalau sedang Je’ne Kebo’, tidak melewati Pamatata tetapi sisi barat Pulau Selayar lalu memotong di antara Pulau Tambolongang dan Appatanah. Lepas Appatanah, perahu berjibaku dengan pucuk-pucuk gelombang yang menjalar di sisi utara Pulau Kayuadi.

Opsi kedua, adalah naik bus dari Terminal Mallengkeri Makassar lalu melata di jalur selatan, Gowa-Takalar-Je’neponto-Bantaeng-Bulukumba-Bira kemudian naik fery 2 jam ke Pamatata, ujung utara Pulau Selayar. Lalu lanjut bus selama 1,5 jam.

Butuh waktu kurang lebih 8 jam sebelum sampai di Kota Benteng. Bisa bermalam di Benteng, terus kita menginap di Hotel Berlian, lalu mencarter atau menumpang kapal tujuan Rajuni Taka Bonerate.

Butuh waktu lebih lama jika lewat ini, isi kantong juga terkuras jika harus carter perahu dari sini.

Opsi ketiga, naik minibus dari Mallengkeri lalu mengarah ke Bulukumba, sama rute dengan bus namun destinasinya di Pelabuhan Lappe dan mencegat perahu kayu tujuan Benteng. Biasanya berangkat pukul 3 sore. Ini dilakoni jika sedang musim timur nan hebat.

Setidaknya itu yang jamak ditempuh pada tahun 90-an hingga 2000-an.
Perjalanan yang memakan waktu lama itu tentu penuh suka dan duka juga. Meski boleh dibilang tidak banyak wisatawan yang memilih jalur itu kecuali yang sedang ada ‘proyek’ atau karena misi khusus yang dibekali modal berlipat.

Saat bekerja di Taka Bonerate pada 1996 hingga 2003, saya beberapa kali bertemu dengan pelancong di atas fery dan menawarinya untuk datang ke Taka Bonerate, ada yang berhasil namun ada pula yang hanya mampu sampai di Kota Benteng.

Dengan kondisi demikian, tentu keindahan Taka Bonerate, gugus pulau karang yang terdiri dari 21 pulau dan ada 8 berpenghuni saat itu teramat sulit dikulik oleh peminat wisata bahari.

Padahal, ada tidak kurang 200 hektar hamparan reef flat yang bisa dinikmati, ada puluhan pulau berpantai indah dan menyajikan pemandangan manis ketika sunset dan sunrise.

Jika sedang beruntung kita bisa menyaksikan lumba-lumba dan paus bermain di antara Pulau Selayar dan Laut Flores.

Ragam dan destinasi wisata di daratan Selayar juga tak kalah mentereng, di Pantai Timur dan Barat.

Saya tulis pengalaman di atas, karena saat ini untuk sampai ke Taka Bonerate kita semakin dimanjakan oleh hadirnya tiga maskapai tujuan Kota Benteng. Ada Garuda, Wings Air, dan Trans Nusa.

Saban hari kita bisa terbang dari Makassar ke Benteng dengan harga tiket hampir sama dengan bus, sekurangnya Rp 300 ribu.

Jika anda hendak pelesiran ke Taka Bonerate atau waktu memadai untuk mecicipi khazanah keindahan Indonesia bagian Sulawesi, maka setidaknya berikut ini gambarannya.

Penerbangan dari Makassar ke Bandara Aroepala Selayar, kurang lebih 40 menit, lalu bisa naik minibus ke pantai timur, di Pelabuhan Pattumbukang selama 30 menit lalu menyambung dengan perahu kayu yang bisa dicarter atau naik ke perahu penumpang tujuan Rajuni yang tersedia dari Kota Benteng. Untuk yang backpacker-an, bisa jajal yang ini, harus lebih sabar menanti jadwalnya.

Saat ini sudah ada perahu penumpang yang melayani rute Kota Benteng dan Rajuni, jadwalnya sekurangnya dua kali atau tiga kali seminggu.

Jika ingin lebih cepat, dengan carter waktu tempuh bisa 6 jam dari bandara hingga Pulau Rajuni. Kalau menggunakan speedboat bisa lebih cepat. Jika ingin murah, pastikan bisa patungan minimal 5-6 orang.

Nah, pada kunjungan saya dan tiga orang teman dari Bali dan Jakarta, tanggal 2-8 Juni 2018 di Selayar Taka Bonerate saya menemukan beberapa keping surga wisata nan mewah, yang saya ingin promosikan.

Pertama, snorkeling di perairan Pulau Pasi, di utara Gusung yang mempunyai rataan terumbu yang indah, kemudian menikmati hamparan mangrove, menikmati sunset di barat Pulau Pasi’. Waktu tempuh hanya 15 menit dari Kota Benteng dengan menumpang perahu khusus penjamu wisatawan.

Silakan hubungi Bapak Tison atau kawan-kawan di Sileya Scuba Divers atau Selayar Marine Dive. Googling deh.

Destinasi kedua adalah menikmati keindahan Pantai Timur Selayar yang aduhai. Eits, tapi sebelum itu silakan jajal dulu keindahan Pantai Barat Selayar.

Datanglah ke Baloiyya atau ke Pantai Sunari dan temui Bli Eka yang mengelola Sunari Resort dengan penampakan fantastik. Plus, pantainya juara.

Setting suasana wisata di Sunari tidak jauh beda dengan pantai-pantai di Bali yang telah dipoles ciamik. Ada penginapan, restoran dan fasilitas yang menyatu dengan alam di sini. Sunsetnya bikin baper.

Kembali ke Pantai Timur. Saya sarankan untuk ke Pantai Punagaang di Desa Patilereng. Desa ini sudah memaklumatkan dirinya sebagai Desa Wisata sehingga beberapa fasilitas sudah tersedia di sana. Kepala desanya sangat bersahabat dan sedia memandu anda. Dia tak ragu menggunakan dana desa untuk mengembangkan wisata desanya yang memang sungguh indah ini.

Di Pantai Punagaang kita bisa snorkeling, diving, atau menikmati pantai, teluk yang menawan. Beberapa perangkat skin dive dan diving juga tersedia di sini. Silakan hubungi Fahri, anak muda setempat yang sedia jadi buddy yang menyenangkan.

Jika ingin suasana darat yang memukau, silakan bergeser ke air terjun Patilereng yang hanya berjarak 2 kilometer dari Punagaang. Bisa dijajal dengan jalan kaki biar lebih mantap.

Nah, sekarang giliran Taka Bonerate.

Pada kunjungan minggu lalu itu kami mencarter perahu dari Pattumbukang ke Pulau Rajuni. Harganya bisa beragam, semakin banyak penumpang semakin bagus. Informasi carter ini bisa hubung Rido di Selayar Marine Dive.

Dari Pattumbukang kami mengarah ke Rajuni dan menginap di Homestay Lola di Pulau Rajuni yang dikelola Haji Bur dan Hj Ita, keduanya sahabat saya sejak 1995 yang tentu saja sangat ramah dan ‘fleksibel’.

Homestay ini sudah jauh lebih baik dari tahun 2011 ketika saya datang. Fasilitas lengkap berikut toko di sampingnya. Kedua pemilik sepertinya punya selera yang bagus terkait bisnis wisata ini. Beberapa media tenar seperti MetroTV, Trans 7, CNN TV, bahkan sudah merasakan kenyamanan bantal dan ruangan homestay Lola.

Kamar yang bisa disewa setahuku ada 6, bahkan 7 jika tuan rumah sedia. Fasilitas sudah lengkap. Ada dua kamar mandi luar dan ada satu kamar mandi dalam. Air tawar dari hujan ditampung dari bak yang besar. Kalau ingin dapat harga teman, sebut saja namaku, haha.

Oh ya, listrik juga tersedia sebab ada solar sel, ada kipas angin dan jendela bisa dibuka lebar jika ingin bermanja-manja dengan angin timur atau barat.

Saya kagum pada halaman homestay ini karena sangat hijau. Jauh berbeda dengan suasana tahun 90-an ketika saya datang ke area sekitar homestay.

Dari Rajuni, silakan eksplor Rajuni, Kampung Bajo, Kampung Bugis, sunset, sunrise, atau snorkeling, dan dive di sekitar pulau.

Dari Rajuni kita bisa ke Pulau Tinabo yang menyajikan ikan hiu, maksudnya menyajikan pemandangan ikan hiu yang bermain di sekitar dermaga. Di Pulau ini terdapat banyak fasiliitas rekreasi yang disiapkan oleh Taman Nasional dan memanja pengunjung yang datang.

Jika ingin diving silakan kontak operator selam di Selayar. Seperti yang disebutkan di atas termasuk Tinabo Dive Center atau unit kerja di Balai TN Taka Bonerate. Bisa menyelam di Ibel Spot yang menyajikan pemandangan ‘karang jamur raksasa’ yang bejibun atau ke Coral Garden Pulau Tarupa yang aduhai.

Itu dulu ya. Ke sana deh!

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *