MINGGU, 10 April 2016, langit di Tanjung Batu tertutup awan tebal. Sehari sebelumnya, pantai di jantung ibukota Kabupaten Donggala itu diguyur hujan lebat.

Tak banyak aktivitas terlihat di pelabuhan, yang saban hari ramai dengan pembongkaran dan transaksi jual beli ikan. Di sudut sebelah utara, sesekali terlihat orang keluar masuk ke gedung mirip hangar pesawat tempur. Konon, bangunan yang seluruhnya dibuat dari seng tebal telah berdiri sejak tahun 1897saat Belanda menguasai wilayah itu.

Dulu, Donggala dikenal sebagai pelabuhan teramai di Sulawesi. Bekas kejayaan kota ini masih ada. Seisi kota, hampir semuanya berarsitektur peninggalan penjajah.Sebelum ibukota Sulawesi Tengah dipindahkan ke Palu tahun 1995, Donggala merupakan pusat pemerintahan.

Di sebelah barat tak jauh dari hangar yang berwarna coklat kemerahan karena karat itu, tampak sekelompok nelayan asyik bersenda-gurau di warung milik Haji Basri.

Di warung tak hanya tersedia aneka minuman dan penganan khas, tapi juga sajian topik perbincangan seolah tanpa ujung, mulai dari cuaca hingga persoalan politik daerah. Perbincangan semakin ngelantur jika diselingi dengan Sokko (nasi dari beras pulut putih yang dicampur parutan kelapa).

Tua dan muda berbaur di situ. Kaum tua tampak meneguk kopi sedangkan yang muda lebih memilih minuman berenergi. Meski tak ada jarak di antara mereka, namun sopan santun bagaimana kaum muda berbicara kepada yang lebih tua tetap terjaga.

Waktumenunjukkan pukul 11.57 WITA. Suara adzan dari surau berdinding papan yang jaraknya 10 meter dari warung, berkumandang. Semua aktivitas di warung terhenti. Nelayan yang larut dalam diskusi, bubar dan buru-buru mengganti celana pendeknya dengan sarung yang telah dipersiapkan untuk shalat Dzuhur berjamaah.

Eee….Engkani kappala’na La Baco (Kapal La Baco sudah datang),” teriak seorang pemuda dalam bahasa Bugis dari kejauhan. Sontak para nelayan yang baru menunaikan shalat bergegas ke pantai.

Alhamdulillah, salama’ni (Alhamdulillah, sudah selamat sampai),” ujar mereka.

Beberapa nelayan memang cukup khawatir. Nelayan yang melaut dua atau tiga hari lalu sudah tiba kembali sejak pagi. Kini mereka semua lega setelah kapal terakhir yang ditunggu merapat dan membawa ikan hasil tangkapan.

Dengan perahu-perahu kecil, ikan-ikan itu dibawa ke darat. Daeng Tapa mulai menghitungikan tangkapan; hanya ada 10 keranjang. Padahal biasanya bisa mencapai 40 keranjang sekali melaut.

Transaksi dilakukan di bibir pantai. Sejumlah juragan ikan dari daerah sekitarnya segera menawar.

Tambai cedde, menre’ni harga solar-e,” (Naikkan sedikitharganya, harga solar sudah naik),” ujar Daeng Tapa saat bernegosiasi denganpembeli.

Paranelayan itu adalah pelaku utama ekonomi di daerah pesisir Donggala. Merekaadalah etnis Bugis yang sudah turun-temurun di sana, dan kini mencapai 80 persen dari jumlah penduduk di wilayah itu. Bahasa yang digunakan bahasa Bugis meskipun sebagian besar dari mereka tak pernah menginjakkan kaki di Makassar, Sulawesi Selatan, tanah asal leluhur mereka.

***

MENDUNG tebal menggelayut di atas pantai Labean, Donggala, SulawesiTengah (18 November 2015).

Belasan anak-anak bermain dan tertawa lepas didermaga, dermaga yang nampaknya sedang diperbaiki. Dua pemuda melempar mata kail sejauh mungkin.  Mereka bersukacita meski sebentar lagi hujanmengguyur kawasan Kecamatan Balaesang.

Di atas dermaga berkayu ulin, seorang anak perempuan usia 12 tahun mempermainkan ikan murai yang tertangkap. Berukuran besar namun tiada yang mengklain miliknya, tiada yang tertarik membawanya pulang.

Di sisi selatan dermaga atau sekitar 50meter dari dermaga, lelaki Anas, bersiap menarik perahu sampan bermesinnya saat penulis melepas pandangan ke lansekap pantai dan laut di sekitar Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Labean, Kecamatan Balaesang.

Sesungguhnya pekerjaan utama warga Labean hingga Desa Meli adalah berkebun. Hingga tahun 80-an, geliat perikanan belum terasa di Labean. Orag-orang lebih senang ke kebun ketimbang ke laut. Ini pengakuan seorang kelaki berkacamata tebal yang masih gesit berjalan dan bekerja. Dia mengaku mengaku datang dari Toli-Toli ke Labean pada tahun 1945.

Lelaki itu Pohuwa, lelaki tua yang sedang mengaso di kawasan PPI Labean yang ditemui oleh penulis pada tanggal 18 itu.

“Dulu tidak ada nelayan. Pantai di sini rata, bersih. Saat datang ke sini, saya turunnya di Meli,” kata sang kakek. Meli adalah desa tetangga Labean. Meski bergitu, Pohuwa tak tinggal di Meli namun ke Kampung Tanjung. Menurut Pohuwa, usaha perikanan mulai marak sejak tahun 90-an, apalagi sejak dikembangkan tempat pendaratan ikan sederhana.

Menurut Pohuwa, seiring perkembangan kampung dari tahun ke tahun, nelayan kian bertambah banyak, terutama sejak datangnya nelayan bagang dari Sulawesi Selatan pada tahun 90-an.

Anas, pria pertama, adalah nelayan keturunan Suku Buton, salah satu suku paling yang umum ditemui di pantai-pantai timur Indonesia. Ayah Anas dari daerah Pangkajene Kepulauan (Pangkep) Sulawesi Selatan sementara ibunya adalah perempuan kelahiran Pulau Kaledupa, Wakatobi. Anas lahir dan besar di Donggala.

Lelaki berkumis ini mengaku adalah pelaut pengembara sebelum menambatkan hidup dan harapannya di pantai Labean.

Tattoo jangkar di lengannya menjadi buktikedekatannya dengan laut. Menjadi bukti intimnya dengan laut. Dengan modal perahu sampan bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Donggala, Anas mengisi hari-harinya sebagai nelayan.

Pengetahuan yang diperolehnya menurun dari tradisi kenelayanan Suku Buton, juga transfer dari orang tua dan keluarganya di Wakatobi.

Untuk berusaha di penangkatan ikan, Anas bermodalkan sarana perahu bantuan dinas senilai Rp. 3,5 juta plus mesin dan dengan itu dia mengaku menyekolahkan anaknya pertamanya yang masih kelas 2 SD.

Menurut Anas, terdapat pengusaha ikan asal Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan yang menjadi juragan perikanan di Labean. Namanya Haji Madong. Madong mempunyai perahu bagang (liftnet) dan sering beroperasi di sekitar perairan Donggala hingga Kalimantan. Usaha bagang marak sejak tahun 90-an namun sempat tertahan dan tak beroperasi karena ada konflik antar nelayan. Antara nelayan lokal dan nelayan pendatang.

***

HANYA beberapa petak rumah ke selatan PPI Labean terdapat rumah PakMansyur, seorang pengusaha ikan sebagaimana cerita sebelumnya dari Anas. Di bagian belakang rumah terdapat ruang terbuka yang berisi kotak persegi yang lazim dipakai menyimpan ikan.  Saat dibuka isinya adalah ikan tuna yang telah dilumuri es. Ada 3 kotak berwarna oranye cerah dan dua lainnya sudah pudar warnanya.

“Tiga yang baru ini adalah bantuan DKP Donggala,” kata Jernih, istri Mansyur yang menerima penulis. Selain berisi tuna, terdapat pula ikan kakap dan kerapu merah 2 ekor sekira 20kilogram perekor. Ikan-ikan yang besar. Menurut Jernih, bantuan ini diterima tiga minggu lalu.

“Biasanya kalau ikan terkumpul banyak seperti kerapu atau kakap, akan langsung dibawa ke Makassar,” kata Jernih yang mengaku telah berusaha hasil laut selama 12 tahun.

“Tapi kalau tidak banyak biasanya akan dikirim ke Palu saja,” tambahnya.

Sejauh ini, Jernih mengaku bahwa usahanya ini tertopang oleh adanya nelayan yang berharap diberikan bantuan usaha seperti diberi modal memberi alat tangkap, kebutuhan BBM hingga operasional lainnya. Jernih mempunyai 10 nelayan sebagai pencari hasil laut. Ada yang meminta diberikan perahu dan ada yang hanya minta dana operasional melaut.

“Sebenarnya nelayan bebas saja, tetapi kadang mereka yang meminta modal usaha. Minta ditanggung bensin dan kebutuhan lainnya seperti umpan. Kalau ada hasil mereka jual ke sini,” ungkap Jernih.

Menurut Jernih, kalau memungkinkan, hasil penjualan akan dipotong namun kalau belum bisa atau hasil tidak mencukupi tidak akan dipotong.

Jernih juga membeli ikan dari nelayan umum alias bukan anggotanya. Biasanya ikan cakalang dibawa ke pasar, di kampung, tidak jauh dari rumahnya. Kadang pula dibeli pengecer dan dibawa ke Palu.

“Kalau ikan-ikan besar kerapu ukuran20-30 kilogram akan dies dan kalau masuk ukuran seperti tuna akan diekspor,”katanya.

Selain tuna, Jernih kerap menampung ikan kerapu, kakap, ikan merah atau ikan karang. Anggota nelayan Jernih ada juga yang merupakan dari nelayan Tanjung, kampung sebelah.

Sementara itu, lelaki Asli dan istrinya,hanya berjarak satu rumah dari Jernih terlihat sibuk memilah ikan dan memasukkan ke kotak yang telah dilumuri es. Asli, adalah juga pembeli ikan diLabean.

Sore itu, di tengah gerimis yang membasahiLabean, mereka sibuk menyiapkan es batu untuk dimasukkan ke ikan yang telah ditata di dalam kotak pendingin (coldbox).

“Ini es bikin sendiri, di kulkas,” kata Asliyang diiyakan istrinya. Mereka berharap di PPI Labean dibangun pabrik es sebab selama ini kebutuhan es hanya dipenuhi oleh kulkas skala rumah tangga.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *